Good Looking, atau Good Attitude? #BicaraCinta

Menjadi seorang pria tampan gagah perkasa, atau perempuan feminim dengan ikat rambut dikepang kuda, mungkin selalu menjadi impian mudi-muda. Good looking, begitulah istilah asingnya. Berlomba mengubah gaya yang lebih kekinian, demi menggaet lawan jenisnya.

Sampai mereka lupa bahwa, untuk mendapat bahagia dalam sebuah hubungan, perlu good attitude juga. Bisa saling menjaga hati, lisan dan rasa. Bukan hanya sekadar good looking saja.

Sebetulnya memang tidak salah berangan-angan. Punya pria tampan dan berani, maupun cantik jelita bersenyum seri. Biar pas diajak jalan, tidak malu bergandengan. Dilirik orang-orang, serasa jadi putri dan sang pangeran.

Orang-orang, terutama anak usia remaja, lebih senang mencari badboy atau badgirl yang good looking. Katanya, sensasinya beda. Seakan sedang jadi tokoh utama dalam novel yang mereka baca. Giliran disakiti, curhatnya ke mana-mana.

Padahal, si good attitude sedang setia mencinta dalam diamnya. Menunggu momen yang lebih indah dibanding menulis kisah asmara sesaat. Manusia jenis ini, bahkan mungkin sedang merencanakan masa depan. Bersama orang yang ia sebut dalam doa di sepertiga malam.

Pemilik good attitude, sangat sungkan berpindah hati. Asalkan si dia, memang juga sedang menanti. Tidak tiba-tiba saja, sedang ada yang memiliki. Jikalau terjadi, bagaimana mungkin ia tak patah hati?

Seakan dunia telah mengutuknya. Menangis sejadi-jadinya. Kehilangan seseorang yang bahkan sempat mengganti posisi ibunda. Saking jatuh cintanya.

Nahas, bertahun-tahun kemudian, ketika air mata jatuh dari hati sang pujaan, si good attitude masih ikhlas bertahan. Masih mengharap kamu dan dia, saling berdampingan.

Menemukan keduanya sekaligus, cukup langka didapat. Good looking dan good attitude tak seperti seperangkat alat salat. Keduanya sering dijual terpisah, disembarang tempat.

Solusinya, jadilah perspektif seorang ibu. Mau bagaimanapun rupa anak lelakinya, tetap jadi si ganteng nomor satu. Tetap jadi si cantik, tanpa rasa ragu.

Jika kamu kebetulan memiliki pasangan dengan tampang biasa saja, tanamkanlah rasa bangga. Cari kelebihannya, yang bisa merespon bahagia. Ketika itu sudah terjadi, maka kisah cinta sedang diukir begitu indahnya. Yakinkanlah, kamu mencintai apa adanya.

Jadi, apakah kamu masih setia dengan yang good looking meski memberi luka? Kemudian, abai pada si good attitude beserta rasa cinta yang ia bawa? Atau, kamu masih setia mencari yang keduanya ada? Semua tergantung kamu. Mencari cinta sejati, atau hanya main-main rasa saja.
Nandar IR

Calon penulis, menyukai videografi, dan hobi berpikir di kala rebahan. Harus kenal dekat dulu, baru asyik diajak ngobrol. Bukan berarti bersikap dingin, hanya kurang percaya diri memulai obrolan.

7 Komentar

Hai, senang bisa mendapat komentar darimu! 😊

  1. Kalau bisa ya tetep dua duanya 😆 pasti ada. Tapi kalaupun susah ya nomor satu tetap good attitudelah, yakali modal tampang doang ya 😅

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, asal sabar nyarinya pasti ketemu 😁.
      Good attitude harus jadi yang nomor satu.

      Hapus
  2. walaah kalau harus milih beraat jugaa hihii yapi emang sihh good attitude harus jadi prioritas. Pengalaman eung good looking bgtu hahahahaa ngomongnya pedess bikin sakin hati

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha emang, sebagai manusia maunya yang sempurna. Mau keduanya ada. Tapi emang susah.
      Satu perguruan nih sepertinya. Saya juga pernah ngalamin. Bedanya, saya diselingkuhin. Jadi curhat 🤣🤣

      Hapus
  3. Dulu waktu jaman sering bucin ya pilih good looking lumayan buat pamer kalo kondangan hehe tapi bikin sakit hati muluukkk.... ya udah... alhamdulillah dapat suami good attitude walau tak terlalu rupawan, tapi cintanya menawan.. eaaaaa...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Duh, jadi pengen cepet nikah. 🤣

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
Lebih baru Lebih lama