Belum Tentu Mereka Sesibuk Dirimu

sibuk bekerja

Karakter manusia memang sulit ditebak. Kadang meminta-minta kerjaan, kadang mengeluh dengan pekerjaan. Mengeluh tentang betapa gilanya aktivitas di kantor, sampai menghiperbolakan lewat frasa "kepala pecah". Sibuk mengerjakan ini itu, belum selesai yang ini sudah datang tugas yang itu. Sampai tidak ingat bahwa mereka dulu, sibuk meratapi ketidakbergunaannya jadi manusia. Berseloroh soal, "ketuhanan yang tidak adil dan tidak beradab." Manusia, memang banyak maunya.

Tidak sibuk, tidak makan!

Pekerjaan di perkantoran maupun pekerjaan lainnya, memang tidak ada yang santai. Arsitek sibuk dengan desain rumah dan revisi kliennya, penulis sibuk dengan bagaimana mengakali tiap paragraf supaya enak dibaca, pengurus DKM sibuk mengatur masjid supaya banyak jamaah, penjaja makanan sibuk dengan jualannya, dan contoh lain sebagainya. Bahkan, menteri sosial misalnya, sibuk mensosialisasikan hukum tertinggi sebuah tindak pidana korupsi.

Kalau tidak sibuk, ya tidak makan. Begitulah konsekuensi hidup sebagai manusia ciptaan Tuhan. Mau tidak mau, ikhlas maupun terpaksa, kalau mau tetap hidup ya harus sibuk dengan pekerjaan.

Terlebih jika kamu sudah punya tanggungan keluarga. Mau makan apa mereka kalau kamu tidak sibuk bekerja? Keluargamu, khususnya istrimu, sedari dulu sudah percaya bahwa kamu bisa bertanggung jawab atas mereka. Kalau kamu berada di sudut pandang sebagai istri, maka biarlah kesibukan itu sebagai ladang ibadah. Kalau kamu berada di sudut pandang sebagai anak, apa susahnya mengabdi kepada orang tua.

Belum tentu mereka sesibuk dirimu

Di luar sana, masih ada banyak orang yang sedang berjuang mengikuti jejakmu. Disibukkan dengan kerjaan. Bermimpi menjadi manusia yang tidak hanya duduk di halaman rumah saja. Bermimpi mengerjakan sesuatu, lalu diberi upah untuk kebutuhan hidup. Hidup menjadi pengangguran tak pernah mengenakkan, kawan.

Di luar sana, masih ada orang yang dengan berbagai alasan, hanya menggantungkan hidupnya pada dana bantuan sosial. Bantuan yang sering kali keliru dan penuh lika-liku. Betapa tidak indahnya hidup, jikalau setiap saat selalu was-was bansos tidak cair.

Jauh lebih parahnya lagi, masih ada banyak orang pengangguran yang hidupnya memang hanya mau jadi pengangguran. Kalau bisa makan tinggal makan, kalau tidak ada ya tinggal menunggu mati. Serius, ada!

Maka, bersyukurlah menjadi orang sibuk dengan pekerjaan. Asalkan baik dan memang halal. Bukan sibuk menipu jutaan penulis dengan teknik marketing gaya iblis. Bukan sibuk pura-pura jadi pejabat peduli kasus korupsi, eh malah beneran ikut korupsi. Bukan sibuk membela agama, tak taunya tak pernah salat subuh sampai isya.

Tuhanmu tidak pernah salah memilih apa yang terbaik bagimu. Termasuk kesibukan yang sedang kamu kerjakan. Ia memilih dirimu karena kamu memang layak. Tak mungkin Tuhan salah pilih orang. Bukan begitu, Tuhan?

Ya sudahlah, sebegitu saja sudah. Maaf-maaf kalau tulisannya acak-acakan dan tak terstruktur rapi. Selain untuk meramaikan tema bulanan komunitas 1 Minggu 1 Cerita, tulisan ini juga sebagai catatan abadi jika saya berada di posisimu nanti. Pasti.
Nandar IR

Calon penulis, menyukai videografi, dan hobi berpikir di kala rebahan. Harus kenal dekat dulu, baru asyik diajak ngobrol. Bukan berarti bersikap dingin, hanya kurang percaya diri memulai obrolan.

Posting Komentar

Hai, senang bisa mendapat komentar darimu! 😊

Lebih baru Lebih lama